Pagi itu, musim hujan 2023, kami duduk berdua di meja dapur yang sempit. Laptop sudah menyala, tugas sekolah menumpuk, tapi anak saya—sebut saja Alya—menatap layar dengan mata kosong. Ia lebih memilih main game kemarin malam. Saya merasakan kombinasi frustasi dan bersalah: frustasi karena deadline tugas, bersalah karena sudah memaksakan aturan pagi tanpa strategi. Dalam hati saya berbisik, “Ini tidak boleh jadi drama harian.” Saya tahu harus mengubah pendekatan. Bukan hanya soal mematikan akses game, tetapi merancang pengalaman belajar di laptop yang membuat Alya mau memulai sendiri.
Membuat laptop terasa milik mereka, bukan sekadar alat
Satu rahasia kecil yang saya coba: berikan anak rasa kepemilikan. Bukan sekadar kata-kata. Saya mengajak Alya memilih wallpaper, warna tema, dan nama profil pengguna di laptop. Ia mengeluh awalnya, “Kenapa harus ribet?” Saya jawab, “Coba pikir, kalau meja belajarmu pakai taplak yang kamu suka, pasti lebih enak, kan?” Ia setuju. Saya juga memasang stiker kecil di sudut laptop—stiker yang kita temukan bersama waktu browsing ide istirahat kreatif di recesspieces. Itu sederhana, tapi efeknya besar: ketika Alya duduk, dia merasa ini ruangnya. Kepemilikan mengurangi resistensi lebih dari yang saya kira.
Membatasi gangguan dengan solusi teknis yang praktis
Sebelumnya saya coba memblokir semua akun game. Hasilnya? Tangisan dan negosiasi selama 30 menit setiap pagi. Jadi saya ubah taktik: alih-alih larangan total, saya membuat profil khusus “Sekolah” di browser. Hanya ada bookmark untuk kelas, materi sekolah, dan aplikasi pembelajaran. Notifikasi dimatikan. Jam tidur layar diatur agar tidak menggoda untuk tetap online. Membuat profil terpisah ternyata ngemot dua keuntungan: gangguan berkurang, dan Alya mulai terbiasa membuka profil sekolah ketika waktunya tugas. Teknik teknis lain yang saya pakai: eksternal keyboard dan stand untuk ergonomi—postur yang nyaman membantu fokus lebih lama; headphone dengan noise-cancelling murah juga sangat membantu saat anak perlu konsentrasi.
Ritual kecil sebelum belajar yang kerja
Kita semua butuh ritual. Di rumah, ritual kami sederhana. Lakukan “cek 3 menit”: pastikan charger terpasang, tab laundry singkat jika perlu, dan buka aplikasi belajar. Selanjutnya pakai Pomodoro: 25 menit kerja, 5 menit istirahat. Di awal berantakan—Alya sering memperpanjang istirahat menjadi setengah jam. Saya belajar memberi struktur pada istirahat itu: bukan larangan, tapi opsi. Misalnya, setelah dua Pomodoro penuh, ia boleh pilih satu aktivitas singkat dari daftar yang kita buat bersama—jalan kecil di halaman, cuplikan video edukasi, atau mini-stretching. Kadang saya nolong memandu 5 menit pertama agar fokusnya stabil. Ritual memberi sinyal yang jelas pada otak: ini waktu serius, ini waktu santai.
Co-learning: belajar bersama tanpa menggurui
Sekarang bagian yang paling pribadi. Ada hari ketika saya duduk di sebelah Alya, membuka laptop saya sendiri dan bekerja. Tidak mengoreksi, tidak mengawasi. Hanya hadir. Ia marah waktu awal saya lakukan itu: “Kenapa Ayah/Mama ikutan main laptop juga?” Saya jawab jujur, “Supaya aku bisa bantu kalau kamu bingung, tapi kalau aku mengganggu, bilang ya.” Keheningan itu berubah jadi sesi di mana ia menunjukkan langkah-langkah pengerjaan tugas dengan bangga. Ada momen kecil yang masih saya ingat: ketika ia menutup tab game sendiri sambil berkata, “Aku mau coba dulu, Bu.” Saya tahu itu kemenangan kecil yang nyata. Co-learning membangun rasa percaya dan mengubah laptop dari ancaman menjadi alat kolaborasi.
Hasilnya tak instan, tapi konsisten. Dalam dua minggu, drama pagi berkurang. Alya tidak lagi menangis tiap kali tugas menumpuk. Ia mulai menuntaskan tugas dengan lebih sedikit interupsi, dan—yang paling membuat saya lega—mulai mengelola waktunya sendiri. Pelajaran terbesar yang saya dapat: teknologi bukan penyelamat, tetapi desain pengalaman yang baik bisa mengurangi friksi. Anak butuh ruang yang ramah, aturan yang jelas tapi fleksibel, dan kehadiran orang tua yang bukan pemeriksa tapi pendamping.
Jika Anda ingin coba, lakukan langkah kecil dulu. Jangan berusaha mengubah semuanya sekaligus. Mulai dari satu ritual atau satu profil khusus di laptop. Beri anak kontrol kecil. Hadirlah, bukan karena Anda harus mengawasi, melainkan karena Anda mau mendampingi. Saya masih belajar setiap hari. Kadang saya salah, dan Alya mengingatkan saya dengan cara yang membuat saya tersenyum—dan itu, bagi saya, lebih berharga daripada layar yang mulus tanpa drama.
